Filter
January 17, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Seuatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata,
“Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”
“Tunggu beberapa menit,” Socrates menjawab. “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test.”
“Triple Filter?”
“Benar,” kata Socrates. “Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan anda katakan, itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test.”
Filter pertama adalah KEBENARAN. “Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”
“Tidak,” jawab orang itu, “sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”
“Baik,” kata Socrates. “jadi anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya…”
“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”
“Tidak, samasekali tidak.”
“Jadi,” Socrates menyimpulkan, “bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?”
Itulah mengapa Socrates adalah filsuf terbesar dan sangat terhormat. Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda ,mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang anda kasihi.
Paulus, rasul dari Yesus Kristus mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu… Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” (Filipi4:8,9)
Semangat Sinar Matahari
January 17, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Bagaimana usahamu, Eben?”
Laki-laki tua itu sedang mencuci tangan di bak cuci sesudah bekerja sepanjang hari.
“Baik, Martha, baik.”
“Apakah tokonya masih sama seperti yang dulu? Aku ingin sekali berada di sana lagi sambil menikmati sinar cerah matahari yang masuk! Bagaimana keadaannya sekarang, Eben?”
“Toko tidak pernah sama lagi sejak kau meninggalkannya, Martha.” Pipi Martha pun bersemu merah. Seorang istri tidak pernah terlalu tua untuk merasa tersentuh oleh pujian suaminya!
Selama bertahun-tahun Eben dan Martha menjaga sebuah toko kelontong kecil, tetapi suatu hari martha jatuh sakit. Itu terjadi berbulan-bulan yang lalu. Ia sekarang sudah keluar dari rumah sakit, tetapi ia tidak pernah kuat lagi, tidak pernah lagi menjadi mitra di toko kecil yang bahagia.
“Aku sudah tidak tahan untuk melihat toko itu,” pikir Martha suatu sore. “Kalau kau benar-benar hati-hati, kukira aku bisa ke sana. Toko itu tidak terlalu jauh.
Perlu waktu yang lama baginya untuk menyeret dirinya menuju kota, tetapi akhirnya ia berdiri di ujung jalan kecil, tempat toko itu berada. Tiba-tiba ia berhenti. Tidak jauh dari situ Eben berdiri di trotoar. Sebuah nampan tergantung di lehernya. Di nampan itu tertata beberapa kartu dengan kancing kerah, kertas dengan peniti, dan beberapa ikat tali sepatu. Dengan suara bergetar ia menawarkan barang dagangannya.
Martha bersandar pada dinding bangunan di dekatnya agar bias tetap berdiri. Ia melihat kea rah toko kecil itu. Jendelanya penuh dengan buah. Kemudian ia mengerti. Toko itu telah dijual untuk membayar biaya rumah sakitnya. Ia berbalik dan bergegas secepat kaki lemahnya bias membawanya pergi.
“Hatinya akan terluka kalau tahu bahwa aku mengetahui hal yang sebenarnya!,” pikirnya dan air mata turun membahasi wajahnya.
Ia telah merahasiakannya dariku, dan sekarang aku akan merahasiakannya darinya. Ia tidak boleh tahu bahwa aku tahu.
Malam itu ketika Eben datang, kedinginan dan kelelahan, dengan penuh keceriaan Martha mengajukan pertanyaan kuno itu:
“Bagaimana usahamu, Eben?”
“Tidak pernah sebaik ini Martha,” jawabnya ceria, dan Martha berdoa semoga Allah memberkati Eben atas semangatnya yang seperti matahari bersinar cerah dan atas cintanya kepadanya.
Dalam hidup ini kita tidak dapat melakukan hal-hal besar. Kita hanya dapat melalukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar - Mother Teresa. (Disadur dari buku “Heart for a friend”)
I belong to Jesus
January 17, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Lahir di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya, ataupun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.
Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal di daerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.
Namun pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akbibat cidera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.
Hidup Kaka hancur berantakan saat itu, kecintaannya pada sepakbola demikian besar, kini semua harus berakhir, bahkan sisa hidupnya harus diisi dengan menjalani kelumpuhannya.
Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, tak putus-putusnya ia berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila ia sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.
Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaannya itu tepatnya tahun 2001, Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput bermain sepakbola lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus, ia tidak lagi menjadi pemain cadangan melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.
Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat akan permainannya, dan memanggil Kaka untuk mengenakan baju kebesaran tim Brazil, emas dan hijau, dipercaya untuk bertarung di piala dunia 2002.
Dari sekian banyak bakat baru bersinar di Brazil, ia hanyalah seorang pemain muda yang belum setahun membela klubnya, namun sudah dipanggil masuk tim nasional. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar baginya.
Walaupun dia hanya jadi pemain cadangan dan duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan para seniornya di Piala Dunia, namun Kaka sudah sangat senang dapat ikut serta dalam kompetisi sebesar Piala Dunia. Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia.
Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Di bawah pembelaannya Brazil pun menang, peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itupun terjadi, Kaka mengangkat seragamnya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan “I Love Jesus”.
Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil pun memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan di negaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan ‘I love Jesus’ itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.
Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, “Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka.”
Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Tidak lama kemudian mereka meminta Kaka masuk dalam timnya sebagai pemain utama. Kaka pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Namun dalam musim pertamanya di Liga Italia seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara scudetto bagi AC Milan.
Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya yang seperti seorang bintang film membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, di manapun ia berada akan selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya.
Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu dikeliling wanita-wanita cantik super model, atau pesta-pesta kemenangan, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum pernikahan, seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar.
Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.
“Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami.”
Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya di akhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya dan menunjukan tulisan “I belong to Jesus” kemudian berlutut berdoa bersyukur di tengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.
Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, di tengah kepungan 3 raksasa Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.
Kaka menjadi Top Scorer dalam Liga Champion, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi di seluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia. Klub-klub kaya seperti Real Madrid diberitakan telah mengajukan penawaran sebesar 100 juta euro (1 trilyun rupiah lebih) jauh memecahkan rekor pemain termahal saat ini.
Do you belong to Jesus???
Salah Jurusan
Suatu malam seorang lelaki yang sedang mabuk naik bis dan duduk di sebelah perempuan yang sudah berumur. Si nenek memandangi pemuda itu dari atas sampai ke bawah, kemudian berkata, “Tahu nggak, kamu ini sedang menuju ke neraka !!”. Si pemuda yang sedang mabuk itu melompat kaget sambil berteriak, “Stoppp !!!… Kirii !!.. Saya salah naik bis !!”
Aku bertanya kepada Tuhan….
January 6, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya… Lalu Dia menunjukkan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi…
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik… lalu Dia menujukkan seorang wanita dengan kecantikan melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa ia membiarkanku menjadi tua… lalu Dia menunjukkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah yang besar… lalu dia menunjukkan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, yang baru saja diusir dari rumahnya yang kecil sesak…dan terpaksa tinggal di jalanan.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja… Lalu Dia menunjukkan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun. Karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk belajar membaca.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal… lalu Dia menunjukkan seorang yang memilik banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak lagi memiliki harta.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar… lalu Dia menunjukkan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.
Aku bertanya kembali kepada Tuhan, mengapa ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku. Dia lalu menunjukkan AlkitabNya…Dia menunjukkan AnakNya, yang telah mengambil alih tempatku di kalvari.
Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku…dan itu sudah cukup bagiku.
God Bless You All…
Semua Terjadi Karena Suatu Alasan
January 6, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.
Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington . Setiap hari aku berlari ke kotak pos.Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center . Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ? … Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? … Kenapa bukan aku? … Bagian diriku yang mana yang kurang? … Mengapa aku diperlakukan kejam? … Aku berpaling pada ayahku. Katanya,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?. Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila Tuhan mengatakan YA, Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK, Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU, Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA
Tuhan tidak pernah terlambat, DIA juga tidak tergesa-gesa namun DIA tepat waktu.
Behind every success is ambition……
Behind every ambition is effort…..
Behind every effort is someone who’s willing to try…..
Bambu
January 6, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Pada suatu hari aku memutuskan untuk meyerah. Aku keluar dari pekerjaanku, berpamitan dengan teman-temanku, … dan aku ingin mengakhiri hidupku. lalu, aku pergi ke suatu tempat yang rindang dan berbicara kepada Tuhan untuk yang terkahir kali..”Tuhan” aku bertanya, “Apakah Engkau bisa memberi aku satu alasan saja supaya aku tidak menyerah?” Tuhan pun menjawabku.”Lihatlah sekitarmu,” KataNya. “Apakah engaku melihat semak dan bambu itu?” “Ya,” jawabku.
“Tahukah kamu bahwa sejak Aku menanam benihnya, aku merawat mereka. Aku memberinya sinar. Aku memberinya air. Benih semak itu cepat sekali tumbuh. Ia berwarna kehijauan. sangat elok dilihat. Tapi aku tidak menyerah. Aku tetap merawatnya. Pada tahun kedua, semak itu tumbuh semakin lebat. Tapi tetap, tidak ada apa pun yang tumbuh dari benih bambu itu. meski begitu, Aku tidak menyerah dengan benih bambu itu,” kataNya.
“Pada tahun ketiga, tetap tidak ada yang tumbuh pada benih bambu itu. Demikian juga pada tahun keempat. Tapi, Aku tetap tidak menyerah. Dan Aku masih tetap merawatnya,” kataNya. “Lalu pada tahun kelima sebuah tunas kecil muncul dari benih bambu itu. Dibanding dengan semak yang sangat lebat itu, tunas bambu yang baru tumbuh terlihat sangat kecil dan tidak berharga. Tapi, hanya dalam waktu 6 bulan, tunas itu sudah tumbuh menjulang tinggi sampai 30 meter.”
“Ternyata, bambu membutuhkan waktu sampai lima tahun untuk menumbuhkan akar yang kuat. akar itu menancap sebegitu kuat pada tanah untuk menyerap semua zat gizi dari tanah dan membuat bambu dapat hidup lama. Aku tidak akan memberi masalah yang melampaui kekuatanmu. Tahukah kamu, bahwa selama waktu-waktu pergumulanmu yang berat itu, sebenarnya kamu sedang menumbuhkan akar dalam kehidupanmu?” tanya Tuhan.
“Aku tidak menyerah dengan benih bambu itu, demikian juga, Aku tidak akan menyerah denganmu,” kataNya. “Bambu itu bertumbuh dengan tujuan yang berbeda dibanding semak-semak. Tapi, meskipun demikian, mereka saling melengkapi untuk membuat hutan ini terlihat indah. “Waktumu akan datang,” kata Tuhan kepadaku. “Kamu akan tumbuh menjulang tinggi”
“Seberapakah tinggikah aku akan tumbuh?” tanyaku. “Menurutmu, seberapa tinggi bambu itu akan tumbuh?” tanya Tuhan kembali. “Setinggi yang ia bisa?” jawabku. “Ya,” Jawab Tuhan, “Janganlah engkau menyerah. Muliakan Aku dengan bertumbuh setinggi yang kamu bisa.”
Jangan beritahu Tuhan betapa besar masalahmu, tapi katakan pada masalahmu betapa besar Tuhan Itu!
Lilin
January 6, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Dalam Hidup ini ada perkara besar, istimewa dan luar biasa. Kesanalah biasanya mata orang tertuju. Orang jarang mau memperhatikan perkara kecil, sederhana dan biasa. Padahal dari perkara yang nampaknya biasa-biasa saja pun kita bisa mengambil sebuah hikmah.
Misalnya dari sebatang lilin. Jika listrik padam, kita bisa menyalakan sebatang lilin. Kita melihat sumbunya terbakar, batangnya meleleh. Lilin itu rela meleleh dan menjadi pendek. Sebatang lilin hidup dan menyala bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Ia memberi dirinya untuk yang lain. Dari situ kita bisa belajar, bahwa untuk memberi terang butuh kerelaan untuk berkorban.
Memang, terang lilin sangat jauh berbeda dengan sorot lampu. Tidak segemerlap terang lampu pijar. Namun, dengan terang yang diberikannya cukup untuk menolong kita menemukan gagang pintu kamar atau melihat meja kursi supaya kita tidak menabraknya dalam kegelapan.
Kita adalah ibarat sebatang lilin. Kita diberi hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk melayani orang lain. Setiap kita memiliki bagian sendiri dalam pelayanan yang berbeda dengan orang lain. Tidak ada gunanya membanding-bandingkan. Hanya ingatlah satu hal, bahwa kita melayani Tuhan dan untuk menjadi lilin yang memberi terang, kita harus rela meleleh dan menjadi pendek.
Sinar sebatang lilin biasa-biasa saja. Tetapi ia bersinar semaksimal mungkin dengan setia. Mungkin pelayanan kita biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Tidak luar biasa. Tidak hebat. Tidak punya kedudukan. Tetapi dengan hidup menjadi anak-anak terang (Ef.5:8-10), maka kita bisa menjadi terang. Pelayanan kristiani yang paling mendasar adalah hidup seperti lilin, yaitu dengan menjadi terang dan dengan begitu memberi terang. Sebatang lilin tidak akan berguna jika ia tidak menyala dan meyinarkan terang.
Selama batang dan sumbunya masih ada, lilin itu akan terus bersinar. Sumbunya terus terbakar, batangnya terus meleleh dan menjadi pendek. Suatu saat batangnya akan habis dan sumbu lilin itu pun akan terbakar habis. Tetapi tidak berarti lilin itu telah gagal dan sia-sia. Justru sebaliknya. Lilin itu telah menjalankan perannya dengan baik dan berdaya guna.
Seperti batang lilin, hidup dan pelayanan kita juga pada suatu saat akan berakhir. Ada waktu untuk menyala, ada waktu untuk padam. Nanti ada lilin-lilin lain yang akan menggantikan dan meneruskan kita. Tetapi selama hidup kita masih bisa bersinar maka kita harus tetap bersinar. Menjadi terang sebisanya, semampunya, semaksimalnya.
Selama Tuhan masih member kesempatan, layanilah Dia dengan segala yang ada. Melayani Tuhan yang telah lebih dahulu melayani kita . Melayani Tuhan yang hadir dalam sosok orang-orang yang membutuhkan. Teruslah bersinar, bersinar terus sampai sumbu penghabisan. Tuhan Yesus memberkati.
Lindungilah diriMu sendiri
Seorang anak kecil berdoa kepada Tuhan Yesus, “Yesus yang baik, lindungilah ayahku dan ibuku. kakakku perempuan dan kakakku laki-laki. Anjingku dan kucingku serta pembantu di rumahku dan tukang kebunku. Dan lindungi juga aku ya Tuhan. Oh, yaa… jangan lupa lindungilah diriMu sendiri Tuhan, sebab kalau terjadi sesuatu padaMu, kami semua akan dapat masalah. Amin.”
Selang Oksigen
James adalah seorang Kristen yang saleh dan sudah tua. Dia sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan sekarat. Keluarganya mengundang pendeta mereka untuk datang ke rumah sakit.
Ketika sang pendeta berdiri di samping tempat tidurnya, kondisi James kelihatan memburuk dan ia bergerak secara serampangan meminta sesuatu yang bisa digunakannya untuk menulis.
Dengan penuh kasih, sang pendeta memberikannya sebuah pena dan selembar kertas. James pun menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada untuk menggoreskan sebuah tulisan. Lalu ia pun menghembuskan napas terakhirnya.
Sang pendeta berpikir bahwa akan lebih baik bila ia tidak membuka tulisan itu pada saat itu juga dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
Di pemakaman, setelah selesai menyampaikan pesannya, sang pendeta menyadari bahwa ia mengenakan jaket yang sama dengan yang dikenakannya pada hari meninggalnya James. Lalu ia berkata, “Perlu anda semua ketahui, James mengulurkan tangan untuk menulis sesuatu sesaat sebelum ia meninggal. Saya belum melihat kertas tersebut. Tetapi dengan mengenal James, saya yakin bahwa ada kata-kata inspirasi di dalam tulisannya itu bagi kita semua.”
Sang pendeta lalu membuka kertas tersebut dan membacanya keras-keras, “Hei, Anda sedang berdiri menginjak selang oksigen saya !!”

