Lilin
January 6, 2009 by Frengky Warsito
Filed under Articles
Dalam Hidup ini ada perkara besar, istimewa dan luar biasa. Kesanalah biasanya mata orang tertuju. Orang jarang mau memperhatikan perkara kecil, sederhana dan biasa. Padahal dari perkara yang nampaknya biasa-biasa saja pun kita bisa mengambil sebuah hikmah.
Misalnya dari sebatang lilin. Jika listrik padam, kita bisa menyalakan sebatang lilin. Kita melihat sumbunya terbakar, batangnya meleleh. Lilin itu rela meleleh dan menjadi pendek. Sebatang lilin hidup dan menyala bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Ia memberi dirinya untuk yang lain. Dari situ kita bisa belajar, bahwa untuk memberi terang butuh kerelaan untuk berkorban.
Memang, terang lilin sangat jauh berbeda dengan sorot lampu. Tidak segemerlap terang lampu pijar. Namun, dengan terang yang diberikannya cukup untuk menolong kita menemukan gagang pintu kamar atau melihat meja kursi supaya kita tidak menabraknya dalam kegelapan.
Kita adalah ibarat sebatang lilin. Kita diberi hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk melayani orang lain. Setiap kita memiliki bagian sendiri dalam pelayanan yang berbeda dengan orang lain. Tidak ada gunanya membanding-bandingkan. Hanya ingatlah satu hal, bahwa kita melayani Tuhan dan untuk menjadi lilin yang memberi terang, kita harus rela meleleh dan menjadi pendek.
Sinar sebatang lilin biasa-biasa saja. Tetapi ia bersinar semaksimal mungkin dengan setia. Mungkin pelayanan kita biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Tidak luar biasa. Tidak hebat. Tidak punya kedudukan. Tetapi dengan hidup menjadi anak-anak terang (Ef.5:8-10), maka kita bisa menjadi terang. Pelayanan kristiani yang paling mendasar adalah hidup seperti lilin, yaitu dengan menjadi terang dan dengan begitu memberi terang. Sebatang lilin tidak akan berguna jika ia tidak menyala dan meyinarkan terang.
Selama batang dan sumbunya masih ada, lilin itu akan terus bersinar. Sumbunya terus terbakar, batangnya terus meleleh dan menjadi pendek. Suatu saat batangnya akan habis dan sumbu lilin itu pun akan terbakar habis. Tetapi tidak berarti lilin itu telah gagal dan sia-sia. Justru sebaliknya. Lilin itu telah menjalankan perannya dengan baik dan berdaya guna.
Seperti batang lilin, hidup dan pelayanan kita juga pada suatu saat akan berakhir. Ada waktu untuk menyala, ada waktu untuk padam. Nanti ada lilin-lilin lain yang akan menggantikan dan meneruskan kita. Tetapi selama hidup kita masih bisa bersinar maka kita harus tetap bersinar. Menjadi terang sebisanya, semampunya, semaksimalnya.
Selama Tuhan masih member kesempatan, layanilah Dia dengan segala yang ada. Melayani Tuhan yang telah lebih dahulu melayani kita . Melayani Tuhan yang hadir dalam sosok orang-orang yang membutuhkan. Teruslah bersinar, bersinar terus sampai sumbu penghabisan. Tuhan Yesus memberkati.

