Semangat Sinar Matahari

January 17, 2009 by Frengky Warsito  
Filed under Articles

Bagaimana usahamu, Eben?”
Laki-laki tua itu sedang mencuci tangan di bak cuci sesudah bekerja sepanjang hari.
“Baik, Martha, baik.”
“Apakah tokonya masih sama seperti yang dulu? Aku ingin sekali berada di sana lagi sambil menikmati sinar cerah matahari yang masuk! Bagaimana keadaannya sekarang, Eben?”
“Toko tidak pernah sama lagi sejak kau meninggalkannya, Martha.” Pipi Martha pun bersemu merah. Seorang istri tidak pernah terlalu tua untuk merasa tersentuh oleh pujian suaminya!
Selama bertahun-tahun Eben dan Martha menjaga sebuah toko kelontong kecil, tetapi suatu hari martha jatuh sakit. Itu terjadi berbulan-bulan yang lalu. Ia sekarang sudah keluar dari rumah sakit, tetapi ia tidak pernah kuat lagi, tidak pernah lagi menjadi mitra di toko kecil yang bahagia.
“Aku sudah tidak tahan untuk melihat toko itu,” pikir Martha suatu sore. “Kalau kau benar-benar hati-hati, kukira aku bisa ke sana. Toko itu tidak terlalu jauh.
Perlu waktu yang lama baginya untuk menyeret dirinya menuju kota, tetapi akhirnya ia berdiri di ujung jalan kecil, tempat toko itu berada. Tiba-tiba ia berhenti. Tidak jauh dari situ Eben berdiri di trotoar. Sebuah nampan tergantung di lehernya. Di nampan itu tertata beberapa kartu dengan kancing kerah, kertas dengan peniti, dan beberapa ikat tali sepatu. Dengan suara bergetar ia menawarkan barang dagangannya.
Martha bersandar pada dinding bangunan di dekatnya agar bias tetap berdiri. Ia melihat kea rah toko kecil itu. Jendelanya penuh dengan buah. Kemudian ia mengerti. Toko itu telah dijual untuk membayar biaya rumah sakitnya. Ia berbalik dan bergegas secepat kaki lemahnya bias membawanya pergi.
“Hatinya akan terluka kalau tahu bahwa aku mengetahui hal yang sebenarnya!,” pikirnya dan air mata turun membahasi wajahnya.
Ia telah merahasiakannya dariku, dan sekarang aku akan merahasiakannya darinya. Ia tidak boleh tahu bahwa aku tahu.
Malam itu ketika Eben datang, kedinginan dan kelelahan, dengan penuh keceriaan Martha mengajukan pertanyaan kuno itu:
“Bagaimana usahamu, Eben?”
“Tidak pernah sebaik ini Martha,” jawabnya ceria, dan Martha berdoa semoga Allah memberkati Eben atas semangatnya yang seperti matahari bersinar cerah dan atas cintanya kepadanya.
Dalam hidup ini kita tidak dapat melakukan hal-hal besar. Kita hanya dapat melalukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar - Mother Teresa. (Disadur dari buku “Heart for a friend”)

Say Comment