Bambu

January 6, 2009 by Frengky Warsito  
Filed under Articles

Pada suatu hari aku memutuskan untuk meyerah. Aku keluar dari pekerjaanku, berpamitan dengan teman-temanku, … dan aku ingin mengakhiri hidupku. lalu, aku pergi ke suatu tempat yang rindang dan berbicara kepada Tuhan untuk yang terkahir kali..”Tuhan” aku bertanya, “Apakah Engkau bisa memberi aku satu alasan saja supaya aku tidak menyerah?” Tuhan pun menjawabku.”Lihatlah sekitarmu,” KataNya. “Apakah engaku melihat semak dan bambu itu?” “Ya,” jawabku.

“Tahukah kamu bahwa sejak Aku menanam benihnya, aku merawat mereka. Aku memberinya sinar. Aku memberinya air. Benih semak itu cepat sekali tumbuh. Ia berwarna kehijauan. sangat elok dilihat. Tapi aku tidak menyerah. Aku tetap merawatnya. Pada tahun kedua, semak itu tumbuh semakin lebat. Tapi tetap, tidak ada apa pun yang tumbuh dari benih bambu itu. meski begitu, Aku tidak menyerah dengan benih bambu itu,” kataNya.

“Pada tahun ketiga, tetap tidak ada yang tumbuh pada benih bambu itu. Demikian juga pada tahun keempat. Tapi, Aku tetap tidak menyerah. Dan Aku masih tetap merawatnya,” kataNya. “Lalu pada tahun kelima sebuah tunas kecil muncul dari benih bambu itu. Dibanding dengan semak yang sangat lebat itu, tunas bambu yang baru tumbuh terlihat sangat kecil dan tidak berharga. Tapi, hanya dalam waktu 6 bulan, tunas itu sudah tumbuh menjulang tinggi sampai 30 meter.”

“Ternyata, bambu membutuhkan waktu sampai lima tahun untuk menumbuhkan akar yang kuat. akar itu menancap sebegitu kuat pada tanah untuk menyerap semua zat gizi dari tanah dan membuat bambu dapat hidup lama. Aku tidak akan memberi masalah yang melampaui kekuatanmu. Tahukah kamu, bahwa selama waktu-waktu pergumulanmu yang berat itu, sebenarnya kamu sedang menumbuhkan akar dalam kehidupanmu?” tanya Tuhan.

“Aku tidak menyerah dengan benih bambu itu, demikian juga, Aku tidak akan menyerah denganmu,” kataNya. “Bambu itu bertumbuh dengan tujuan yang berbeda dibanding semak-semak. Tapi, meskipun demikian, mereka saling melengkapi untuk membuat hutan ini terlihat indah. “Waktumu akan datang,” kata Tuhan kepadaku. “Kamu akan tumbuh menjulang tinggi”

“Seberapakah tinggikah aku akan tumbuh?” tanyaku. “Menurutmu, seberapa tinggi bambu itu akan tumbuh?” tanya Tuhan kembali. “Setinggi yang ia bisa?” jawabku. “Ya,” Jawab Tuhan, “Janganlah engkau menyerah. Muliakan Aku dengan bertumbuh setinggi yang kamu bisa.”

Jangan beritahu Tuhan betapa besar masalahmu, tapi katakan pada masalahmu betapa besar Tuhan Itu!